Petang itu, selepas Maghrib, Bimo sudah duduk di bangku favoritnya di warung angkringan Bu Benu. Menikmati nasi kucing dan segelas es kopi Good Day sachet merah. Di bangku pojok, Parjo, tukang becak berumur setengah abad lebih, sedang asyik menghisap kreteknya sambil menunggu barangkali ada calon penumpang datang yang membutuhkan jasa transport tradisionalnya.
Bu Benu, sang juragan angkringan, sibuk membolak-balik gorengannya agar tingkat kematangannya pas. Kebetulan petang ini ada juga Mbah Tomo, pengamen tua spesialis lagu-lagu kroncong nostalgia, sedang beristirahat dan menikmati dua bungkus nasi kucing plus secangkir kopi pahit. Gitar yang sudah sangat lusuh dan agak lapuk tersandar di lututnya.
Mbah Tomo: "Wah, jaman sekarang aneh ya, Jo. Mangkin banyak orang kaya yang makin kaya, orang miskin makin miskin. Lah, aku udah ngamen puluhan tahun, tetap hidupku gini-gini aja."
Parjo: (menarik napas panjang) "Halah, Mbah...Itu mah bukan cerita baru. Dari dulu juga begitu. Yang kaya duitnya muter, yang miskin duitnya numpang lewat."
Bimo: "Iya, Mbah. Tapi ada penjelasan ilmiahnya juga. Menurut teori ekonomi, orang kaya itu punya aset yang bisa berkembang. Sedangkan orang miskin, penghasilannya habis buat kebutuhan pokok, jadi nggak bisa berinvestasi."
Bu Benu: (nyelutuk sambil menata gorengan di atas nampan) "Halah, impestasi opo? Lha aku punya toples koin receh gini, bisa juga untuk impestasi nggak?"
Bimo: (tertawa kecil) "Ya nggak gitu, Buk. Maksudnya, orang kaya paham cara mengelola uang. Mereka punya mindset berbeda. Nggak semua orang kaya itu cuma numpuk harta, banyak juga yang paham strategi keuangan."
Mbah Tomo: "Wadoh, aku gie mangan je Bim, Jangan ngomongin mencret tho....."
Bimo: (geragaban dan auto meralat) "Mindset Mbah!...Main..set, bukan mencret. Mindset itu semacam cara atau pola pikir. Jadi pola pikir orang kaya itu memang berbeda dengan pola pikir orang susah."
Mbah Tomo: "Lha terus, kepiye? Biar orang miskin nggak makin miskin? Mosok mung pasrah wae?"
Parjo: "Yo ojo nglokro Mbah. Tetep berusaha. Tapi kita juga harus ngerti, kadang masalahnya bukan cuma duit, tapi pola pikir seperti yang diomongke Bimo tadi. Orang miskin kalau dapat uang seringnya langsung dihabisin, nggak kepikiran buat muter duit itu piye carane biar berkembang."
Bu Benu: (mengangguk-angguk sambil menuang teh jahe hangat) "Iyo sih, aku sering menangi. Ada yang dapat rejeki nomplok, eh langsung buat beli HP baru. Padahal bisa buat nambah-nambah modal dagang."
Bimo: "Nah, itu yang namanya 'mindset kekurangan'. Orang yang hidup dalam pola pikir seperti itu merasa harus langsung menikmati uang yang datang, karena takut nggak dapat lagi. Sementara orang kaya, mereka mikirnya gimana caranya uang itu bisa tumbuh dan menarik uang-uang lainnya."
Mbah Tomo: (mengelus dagu) "Jadi, bedanya bukan cuma di isi dompet yo? Tapi isi kepala juga yo?"
Bimo: "Persis! Mindset itu penting. Orang miskin harus mulai belajar cara berpikir kaya. Mulai dari kebiasaan kecil, kayak nabung, belajar keterampilan baru, atau nyari peluang tambahan."
Bu Benu: "Lha terus, kalau aku jualan nasi kucing ini, bisa kaya nggak Mas Bim?"
Bimo: "Tentu bisa, Buk! Kalau Ibuk dah mulai bisa mikir lebih strategis, misale jualan online atau bikin variasi menu yang lebih menarik, seperti nasi bakar, trus nanti tak viralin di medsos, ya pasti lama-lama bisa berkembang. Kuncinya ada di cara berpikir kreatif."
Mbah Tomo: (mengangguk-angguk) "Wah, aku jadi sadar. Aku selama ini cuma ngandelin ngamen thok, nggak pernah mikir buat bikin sesuatu yang lebih besar, yang bisa nambah pemetu (penghasilan)"
Parjo: "Betul, Pak Tom. Peluang selalu ada, asal kita mau belajar dan mengubah carane nggunakke pikiran. Jangan cuma nyalahin keadaan, tapi mulai cari cara buat naik lepel (level)."
──✧❀✧──
- Kaya atau miskin bukan cuma soal uang, tapi juga soal mindset.
- Orang kaya berpikir jangka panjang, orang miskin cenderung berpikir jangka pendek.
- Peluang ada di mana-mana, asal kita mau melihat dan memanfaatkannya.
- Jangan cuma mengeluh, tapi mulailah bertindak.
──✧❀✧──
Sore berganti malam. Mbah Tomo bergegas mengemasi gitarnya, siap beranjak
pulang. Tubuh rentanya butuh segera ngaso setelah seharian menyusuri jalanan kota, menjual suara dan petikan gitarnya. Bimo dan Parjo menyesap kopi mereka dalam diam, seakan
memikirkan jalan masing-masing menuju masa depan yang lebih baik.
Dan Bu
Benu? Lagi sibuk menghitung recehan dari toplesnya. Siapa tahu bisa buat modal
dari jualan sego kucing di angkringan ke sego macan kelas warung makan!
Posting Komentar