Lebaran telah usai dua hari lalu, dan seperti biasa, ada tiga hal yang tak mungkin absen di tiap lebaran: maaf-maafan, baju baru, dan… kadar gula darah yang melonjak tajam. Yap, momen sakral tahunan ini bukan hanya ajang silaturahmi, tapi juga festival nasional minuman sirup, minuman bersoda dan makanan bersantan yang seakan sudah jadi 'kewajiban'. Coba deh, ada nggak rumah yang nggak nyetok sirup merah merona di meja tamu? Kalau ada, pasti rumahnya kosong atau penghuninya masih mudik di kampung!
Sirup: Air Gula yang Selalu Laris Manis
Setiap menjelang Lebaran, sirup seakan naik pangkat dari sekadar minuman biasa menjadi semacam simbol kemakmuran. Warna-warni ceria dalam botol kaca atau plastik ini mendadak lebih penting daripada air putih. Air putih? Siapa itu? Nggak kenal tuh! Tamu datang? Sajiannya sirup. Udah jadi template ajang silaturahmi ke rumah tetangga atau ke tempat saudara. Anak kecil mau minum apa? Sirup. Habis makan opor yang bersantan? Minumnya tetap sirup! Semua hal diselesaikan dengan satu solusi: cairan merah yang manisnya nyaris bikin semut migrasi massal ke rumah kita.
Yah mungkin sesekali minuman bersoda dengan sedikit tambahan es batu kristal.
Siap menemani kue putri salju yang menyamar (berkhayal diselimuti salju,
padahal gula halus yang tebal).
Anehnya, meskipun kita tahu sirup
itu campuran gula dan pewarna makanan plus pengawet, tetap aja nggak bisa
nolak. Niatnya sih, “Ah, cuma segelas,” tapi setelah ngobrol ngalor-ngidul,
gelasnya udah ganti 2-3 kali. Ya nggak? Kalau Lebaran dikasih opsi minuman
lain seperti air putih atau jus tanpa gula, pasti jawabannya, "Duh, kurang
Lebaran nih!....sesekali boleh dong festival gula".
Santan yang Tak Pernah Bosan Dipanaskan
Selain sirup, bintang utama lainnya adalah makanan bersantan. Sejak hari pertama Lebaran (bahkan buka puasa terakhir di malam takbiran), opor ayam, sambal goreng ati/bola-bola daging giling dan rendang jadi menu wajib yang menghiasi meja makan. Tapi masalahnya bukan di hari pertama, melainkan di hari keempat… kelima… keenam… ketika makanan yang sama masih setia di panci dan berkali-kali dipanaskan seperti acara televisi yang diulang-ulang.
Mitosnya, semakin sering dipanasin, semakin enak, bumbunya makin resep kata simbah. Tapi di sisi lain, semakin sering dipanasin, semakin kolesterolnya merajalela. Namun, siapa yang peduli? Selama masih bisa dicocol pake ketupat, semua terasa sah-sah saja. Padahal, kalau santan bisa ngomong, dia pasti udah protes dan bilang, "Udah, stop panasin aku! Aku udah nggak kuat jadi minyak begini, lengket tau!".
Habis Lebaran, Masuk Akal?
Dan setelah seminggu perayaan ini, kita mulai menyadari sesuatu: celana yang kemarin masih longgar kini terasa seperti karung bagor yang kelebihan muatan. Timbangan yang sebelumnya bersahabat tiba-tiba berubah jadi musuh bebuyutan. Tengkuk rasanya nyut-nyutan kaya dihisap Mr. Vampire. Perut mulai protes, badan terasa berat, dan di saat itulah baru kita bilang, "Aduh, kayaknya kebanyakan makan deh kemarin...". Nah loh?!
Sayangnya, momen penyesalan ini cuma bertahan seminggu. Tobat bentar aja. Tahun depan? Siklusnya diulang lagi! Sirup tetap dibeli, makanan bersantan tetap masuk daftar menu utama, roti-roti full gula macem putri salju, nastar dan konco-konconya....dan kalimat "Boleh nambah dikit nggak?" akan terus terdengar. Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang maaf-maafan, tapi juga ajang pembuktian: seberapa kuat tubuh kita bertahan melawan gula dan kolesterol...bravo...bravo...applause dong....
Jadi, buat sobat semua yang saat ini masih menikmati sisa opor dan sirup di kulkas, selamat! Kalian sudah menjadi bagian dari tradisi tahunan yang nggak tergoyahkan. Insyaallah sampai ketemu di Lebaran tahun depan, dengan sirup yang sama dan santan yang setia dipanaskan!
──✧❀✧──
Posting Komentar