Hai...Sobat Harmoni! Rutinitas harian sering kali terasa seperti roda yang terus berputar tanpa henti. Bangun pagi, mengecek ponsel, melihat deretan tugas yang menunggu, lalu menjalani hari dengan segudang target. Malamnya, kembali menatap layar, terjebak dalam arus informasi tanpa akhir. Semua terasa begitu cepat, seakan tidak pernah benar-benar punya waktu untuk berhenti sejenak dan bernapas lega.
Saya...dan barangkali juga Sobat, pernah berada di titik itu. Merasa harus selalu produktif, mengejar standar kesuksesan yang ditetapkan oleh dunia, sampai lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu terletak pada seberapa banyak yang kita miliki, tapi pada seberapa cukup kita merasakannya.
Suatu hari, saya bertemu dengan seorang
teman lama. Bukan di kafe mahal atau restoran mewah, melainkan di sebuah
warung kopi angkringan di pinggir jalan. Dia datang dengan senyum yang begitu
lebar, meski pakaiannya sederhana dan ponselnya bukan keluaran terbaru, tapi
aku tahu dia orang yang mapan baik secara materi dan juga bisnis. Obrolan kami
mengalir ringan, tanpa pamer pencapaian atau sibuk membandingkan hidup satu
sama lain. Justru, ada ketenangan dan kedamaian dalam dirinya yang terasa
menular.
“Aku sekarang lebih bahagia sejak belajar hidup
sederhana,Bro!” katanya sambil menyeruput kopi hitamnya. Aku mulai tertarik
dan bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana bisa seseorang yang, secara materi,
mungkin juga nggak terlalu fantastis-tapi nggak kekurangan juga, justru
terlihat jauh lebih damai dibanding mereka yang hidup terlihat glamour?
Belajar Merasa Cukup
Dunia mengajarkan kita untuk selalu menginginkan yang serba lebih—lebih
sukses, lebih kaya, lebih diakui. Namun, hidup bersahaja bukan berarti
berhenti bermimpi atau tidak memiliki ambisi. Justru, ini tentang menyadari
kapan kita sudah merasa cukup. Ketika kita tidak lagi sibuk mengejar sesuatu
yang takkan ada habisnya, ada ruang untuk benar-benar menikmati apa yang sudah
ada. Mensyukuri apa yang telah didapat.
Misalnya, alih-alih terus
membeli barang baru hanya karena ikut tren, kita bisa bertanya: 'Apakah aku benar-benar membutuhkannya?' Saya (dan mungkin juga Sobat Harmoni) pernah terjebak dalam kebiasaan
membeli barang hanya karena melihat orang lain memilikinya. Sepatu baru,
gadget terbaru, pakaian yang katanya 'must have item'. Tapi setelah
memilikinya, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar sebelum saya kembali
mencari hal lain. Bagai lingkaran setan yang tak berujung.
Hingga saya mulai mencoba sesuatu yang berbeda. Saya belajar memilah mana yang benar-benar berguna dan mana yang hanya keinginan sesaat. Saya mulai menikmati kehangatan kopi di pagi hari tanpa buru-buru mengecek notifikasi. Mulai belajar menghargai obrolan sederhana tanpa merasa harus selalu mengunggahnya ke media sosial. Dan anehnya, hidup terasa jauh lebih ringan.
Mengurangi Beban, Menambah Kebahagiaan
Hidup sederhana juga berarti membebaskan diri dari hal-hal yang hanya menambah
beban. Tidak hanya soal barang atau materi, tapi juga tentang pola pikir dan
kebiasaan.
Saya ingat pernah merasa sangat terbebani dengan
ekspektasi orang lain. Rasanya seperti ada tekanan untuk selalu 'terlihat
berhasil’..'terlihat wah', selalu berada di tempat yang tepat, selalu
mengikuti perkembangan zaman. Padahal, tidak semua yang terlihat hebat dari
luar benar-benar membahagiakan di dalam. Saya melihat tidak sedikit orang yang
memiliki segalanya, tapi tetap merasa hampa.
Ketika kita mulai menyederhanakan hidup, kita juga menyederhanakan kekhawatiran. Kita tidak perlu lagi terbebani dengan penilaian orang lain, tidak terjebak dalam keharusan mengikuti standar yang bukan milik kita. Dan dari situ, kebahagiaan justru datang dengan sendirinya.
Menemukan Kebahagiaan dalam Hal-hal Kecil
Terkadang, kebahagiaan tidak harus datang dalam bentuk sesuatu yang besar, yang wah. Ada keindahan dalam kebersahajaan yang sering kita lewatkan—waktu berkualitas bersama keluarga, angin sore yang menyegarkan, atau sekadar duduk diam menikmati ketenangan, klempas-klempus rokok kretek favorit dan secangkir kopi favorit.
Dulu, saya sering berpikir bahwa kebahagiaan harus
dikejar. Tapi ternyata, kebahagiaan tidak selalu ditemukan dalam hal-hal yang
jauh di depan. Ia bisa ada di sini, saat ini, jika kita mau meluangkan waktu
untuk merasakannya.
Jadi, Sobat, bagaimana kalau kita mulai melihat
hidup dari sudut yang lebih sederhana? Menjalani hari dengan lebih ringan,
tidak terburu-buru mengejar segalanya, dan mulai menikmati apa yang sudah ada
di tangan, yang sudah kita dapatkan. Mungkin, kebahagiaan yang kita cari
selama ini tidak pernah jauh di luaran sana—hanya saja, kita terlalu sibuk
atau bahkan enggan untuk menyadarinya.
Bagaimana menurutmu? Pernahkah kamu merasa lebih damai ketika memilih untuk hidup lebih sederhana dan apa adanya? Yuk, bagikan ceritamu di kolom komentar!💬
Posting Komentar